PANPEL AFI 2012 BELUM TUTUP BUKU

Advokasi didorong dan difasilitasi oleh kelompok sineast, pemerhati film dan tim penasehat hukum untuk menguji dan mendudukan kegiatan dan kinerja ketua afi 2012 pada poros kebenaran berdasarkan fakta. Kegiatan perfilman oleh pemerintah melalui lembaga yang menaungi sering tak ada manfaat. Film hanya dipakai sebagai proyek. Fakta fakta tentang hal tersebut akan diungkap melalui penelusuran secara jujur, terbuka dan akurat. Bukti tentang penggunaan dana dan mubazirnya acara yang dibuat diukur melalui kros cek pada tiap bidang acara. Dengan semangat menjaga martabat Film sebagai karya  "budaya", investigasi ini ditujukan agar film Indonesia tidak dijadikan sekedar proyek untuk menggaruk uang negara.

You are here: HomeArtikel

Di balik Apresiasi Film Indonesia 2012

Di balik Apresiasi Film Indonesia 2012

Ada yang tercecer dari serangkaian kegiatan penganugerahan ‘Terunggul’ di ajang Apresiasi Film Indonesia (AFI). Marilah menyimak kericuhan di balik kegiatan bernilai pagu Rp5,9 Miliar, yang dimenangkan oleh sebuah perusahaan peserta tender di Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Jika hanya sekadar belum tuntasnya pembayaran honor para juri dan panitia setelah acara itu berakhir, atau redupnya suasana Malam Anugerah AFI 2012 yang ditayangkan Antv pada Minggu (2/12/12) malam, mungkin masih bisa disebut kondisi ini sebagai ‘kesalahan teknis’. Peluang untuk dibayar masih ada..

Atau ketika proses tender proyek AFI dimenangkan oleh sebuah perusahaan, yang ternyata tidak punya modal mungkin bisa ditolelir. Sebab, toh ternyata ada perusahaan peserta tender lainnya yang kalah dan ternyata dianggap bisa ‘nalangin’ anggaran yang dibutuhkan selama proses Penjurian.

Entah bagaimana ceritanya, maka kedua kedua peserta tender ini bekerjasama menjalankan proyek pertama Kemdikbud, sejak perfilman masuk dalam ranah pendidikan dan kebudayaan. Ini bukan satu-satunya proyek perfilman di Kemdikbud.

Untuk menandai kegiatan ini dan demi meyakinkan publik, maka digelarlah press conference pertama Apresiasi Film Indonesia di Gedung E Kantor Kemendikbud. Semuanya berjalan sempurna. Logo AFI terpampang di backdroop para narasumber, terdiri dari pejabat Kemdikbud, panitia pelaksana, juri, dan tentu saja wartawan.

Saat itu, patung seekor burung berdiri gagah (mungkin burung Garuda) berwarna putih dipresentasi sebagai Piala AFI, juga sebuah logo yang entah apa maknanya berwarna kuning menjadi symbol paten AFI. Proses branding pun selesai..

Waktu pun berlalu. Hingga sehari menjelang pelaksanaan malam Anugerah AFI 2012, masih banyak orang termasuk kalangan sineas yang bertanya-tanya soal AFI. Lambangnya seperti apa sih, apakah itu acara semacam Festival Film Indonesia, dan sebagainya. Informasi seputar AFI memang nyaris tidak ada. Bahkan wartawan film hanya segelintir yang bisa mengendus keberadaannya.

Lantas, sehari menjelang malam penyerahan Piala AFI kepada pemenang ‘Terunggul’ panitia mulai mabuk. Biaya untuk para juri dan nominee yang ikut rombongan bis dari Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Jakarta Minggu (2/12/12) belum juga dipegang.

“Ini sudah kacau. Acara tinggal hitungan menit, duit belum juga cair,” keluh seorang panitia.

Rupanya, doa si panitia ini terkabulkan. Hingga acara bubar pukul 23.00 WIB, duit buat para juri dan nominee tidak juga dikeluarkan oleh EO selaku pemenang tender proyek. Sebagian nominee sudah pulang sambil sesekali nengok ke belakang, siapa tahu dipanggil panitia untuk menerima honor.

Yang sungguh terlalu dan sangat ganjil dari AFI 2012 adalah tidak konsistennya Kemendikbud dalam menetapkan logo dan symbol AFI. Jika di awal presentasi AFI digambarkan burung garuda dan coretan symbol berwarna kuning, maka di malam anugerah itu semuanya berubah. Lambang AFI menjadi mirip ‘Panasonic Award’ tapi posisi lelaki bersayap itu lebih menyerupai orang akan terbang.. Aduuh AFI.

 

FAKTA REALITAS KEGIATAN APRESIASI FILM INDONESIA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI

FAKTA REALITAS KEGIATAN APRESIASI FILM INDONESIA
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI

[Jakarta, April 2013]. Kegiatan Apresiasi Film Indonesia 2012, (AFI 2012), oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia merupakan kegiatan apresiasi karya film untuk membangun budaya toleransi terhadap keberagaman, mencerdaskan, pendidikan, dan cinta tanah air. Kegiatan ini mendapat sambutan dan pujian luar biasa dari kalangan pakar pendidikan, sosiolog, sampai masyarakat film sendiri. Beberapa pernyataan disampaikan bahwa AFI merupakan kegiatan program perfilman Kemendikbud yang sangat bagus, bermartabat dan mendidik. Beberapa pakar seperti Prof. DR. Arief Rahman menilai sebagai kegiatan yang memberi sumbangan nyata pada dunia film untuk mengenal keragaman budaya melalui materi film Indonesia. Prof. DR. Tjipta Lesmana memuji Dikbud melakukan terobosan berani untuk memahami sisi lain nilai karya film, disaat produksi film Indonesia saat ini yang banyak menyajikan karya film murahan. Wakil Menteri bidang Kebudayaan sendiri dengan berani menyatakan perang terhadap film-film berbau seks dan tidak mendidik.

Read more: FAKTA REALITAS KEGIATAN APRESIASI FILM INDONESIA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI
Go to top